Riyoyo Kupat Di Desa Seloliman, Trawas Mojokerto

Riyoyo Kupat Di Desa Seloliman, Trawas Mojokerto

Dipublikasikan: 30 Maret 2026
Riyoyo Kupat di Desa Seloliman, Trawas, Mojokerto adalah tradisi tahunan sepekan pasca Idul Fitri (8 Syawal) yang memadukan budaya dan syukuran. Warga mengarak ketupat, mendoakannya di Petirtaan Jolotundo, dan menyantapnya bersama-sama sebagai simbol "leburan" (saling memaafkan) serta syukur atas berkah. Berikut adalah poin-poin penting tradisi Riyoyo Kupat di Desa Seloliman: Lokasi dan Waktu: Acara rutin dilaksanakan di kawasan Cagar Budaya Petirtaan Jolotundo, lereng Gunung Penanggungan, Trawas, biasanya pada 8 Syawal. Pawai Budaya: Prosesi diawali dengan pawai arak-arakan ketupat dan lepet di atas layah (tempat makan tanah liat) serta diiringi Tari Macan Hitam Putih. Filosofi: Ketupat dan lepet melambangkan leburan atau leburnya semua kesalahan dan saling memaafkan, dikutip dari pernyataan Tokoh Adat, Mukadi. Ritual: Warga membawa ketupat dari rumah, diletakkan di bibir kolam Jolotundo, didoakan oleh pemangku adat, dan dimakan bersama-sama sebagai simbol kebersamaan. Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Bapak Drs. Ardi Sepdianto, M.Si mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur. Menurutnya Riyaya Kupat memiliki potensi besar sebagai penguat identitas sekaligus daya tarik wisata budaya. "Ritus Kebudayaan seperti ini perlu terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai destinasi. Wisata budaya di Bumi Majapahit. Kegiatan ditutup dengan ramah tamah antarwarga, mempererat tali silahturahmi di tengah kesejukan lereng Gunung Penanggungan.