SITUS PETIRTAAN JULOTUNDO

Deskripsi

Petirtaan Jolotundo terletak di kaki barat Gunung Bekel atau di lereng utara Gunung Penanggungan Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Di Situs Petirtaan Jolotundo selain terdapat struktur petirtaan ada pula batu-batu lepas baik bagian dari petirtaan, maupun temuan dari lokasi sekitar gunung penanggungan. Terdapat pula fragmen arca yang dikumpulkan di dalam ruang penyimpanan.
Vegetasi yang tumbuh disekitar Petirtaan Jolotundo adalah pohon bulu (Ficus annulata), jeruk bali (Citrus maxima), cempaka putih (Michelia alba), kemiri (Aleurites moluccana), bambu apus (Gigantochloa apus), kemadu (Laportea sinuata), cemara (Casuarinaceae), pucuk merah (Oleina syzygium), durian (Durio zibethinus), palem (Arecaceae), talas (Colocasia esculenta), melati (Jasminum). dan puring (Codiaeum variegatum). Sementara fauna yang dapat dijumpai di sekitar petirtaan adalah capung (Neurothemis fluctuans), kupu-kupu (Rhopalocera), dan burung sriti (Collocalia esculenta)
Kondisi Petirtaan Jolotundo saat ini mengalami ancaman baik oleh alam maupun perilaku manusia. Ancaman yang disebabkan oleh ulah manusia adalah vandalisme, aktivitas naiknya pengunjung pada lantai atas, dan jalur pendakian menuju puncak yang bersinggungan dengan lokasi Petirtaan Jolotundo. Ancaman yang bersumber dari alam berupa moss, algeae, lichens, dan banyaknya sampah. Selain itu potensi ancaman seperti resiko runtuhnya batuan besar maupun pohon tumbang yang berada di atas tebing tepat di atas petirtaan
Berita tertua dari sumber tertulis mengenai situs Petirtaan Jalatunda (Jolotundo) adalah uraian dalam prasasti Sukci (929 M) dari era pemerintahan Raja Pu Sindok (929-947 M). Prasasti tersebut masih berdiri in-situ di lereng timur Gunung Penanggungan di wilayah Pasuruan. Isinya antara lain menyebutkan adanya pertapaan dan petirtaan di Pawitra (gunung Penanggungan). Selain itu juga diuraikan dalam kitab Tantu Panggelaran bahwa di lereng barat Pawitra terdapat salah satu kepurbakalaan tertua, berangka tahun 899 Saka (977 M) yaitu Pe-tirtha-an Gempêng atau Jalatunda (Munandar. 2016: 95-96).
Jolotundo bagi Gunung Penanggungan selain sebagai salah satu jalur pendakian, kerap dianggap sebagai salah satu pintu masuk sekaligus tempat pensucian diri sebelum melakukan "laku" spiritual di "gunung suci" Penanggungan. Konsep pensucian diri dengan media air di (petirtaan) berdasar Kakawin Parthayajna adalah salah satu langkah awal bagi seseorang yang ingin mencapai kelepasan atau moksa dan memohon anugerah dari dewa untuk mencapai kebahagiaan.
Langkah pensucian dengan air petirtaan (Amerta), kemudian memuja arca yang ada di petirtaan tersebut, selanjutnya laku semedi untuk memusatkan pikiran sehingga dapat melenyapkan dan membersihkan diri dari dosa. Pada petirtaan ini, terutama pada teras 2 terdapat pancuran. Pancuran ini oleh Stutterheim diinterpretasikan sesuai bentuk Gunung Penanggungan yang dikelilingi 8 puncak yang lebih rendah. Hal ini berarti bahwa ada pemaknaan simbolis berkaitan dengan replika Mahameru.

Aktif
  • Dibuat: 03 October 2025
  • Diperbarui: 03 October 2025