STRUKTUR PERTIRTAAN JULOTUNDO
Deskripsi
Petirtaan Jolotundo terletak di kaki barat Gunung Bekel atau di lereng utara Gunung Penanggungan Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Secara astronomis Petirtaan Jolotundo terletak pada koordinat 49 M 676033.470 9158502.445 dengan elevasi 567 mdpl. Pertirtaan ini berada di kawasan hutan produksi di bawah pengelolaan Perhutani KPH Mojokerto.
Area parkir kendaraan roda dua dan roda empat berada di depan gapura masuk, berdampingan dengan loket masuk, warung, dan mushola. Sebuah anak tangga jalur pendakian ke puncak Gunung Penanggungan terdapat di sisi timur pintu gerbang. Memasuki kompleks Petirtaan Jolotundo terdapat pintu gerbang dan pos pemeriksaan tiket masuk yang dibuat tidak permanen. Akses menuju ke Relief Huruf Bertuliskan "Gempeng Relief Angka Tahun Saka 899 struktur petirtaan dihubungkan dengan jalan setapak yang dibuat dari paving. Bangunan pos jaga, kantor, gudang dan kamar mandi juga terdapat di dalam Kompleks Petirtaan di sisi barat.
Petirtaan Jolotundo berdenah persegi panjang dengan ukuran panjang 19 m dan lebar 14,53 m pada sisi luar kolam bagian bawah. Pada bagian atas posisi tepat di tengah struktur yang merupakan batu berbentuk melengkung, di sisi utara dan selatan terdapat relief huruf dan angka tahun. Aksara di sisi utara terbaca kata "gempeng", sedangkan di sisi selatan menunjukkan angka tahun saka 899 (977 M).
Petirtaan dibuat bertingkat dan berbentuk persegi. Pada tingkat pertama sisi utara, selatan, dan barat terdapat 4 (empat) pancuran air dan 5 (lima) pancuran pada sisi barat. Pada tingkat kedua sisi utara dan selatan terdapat 5 pancuran, dan 6 pancuran pada sisi barat yang alirannya menuju kolam.
Pada sudut timur laut dan barat laut terdapat bilik berbentuk persegi dengan ukuran panjang 460 cm, dan lebar 360 cm dengan 3 (tiga) buah pancuran air di masing-masing bilik.
Bagian depan pintu masuk bilik telah ditambahi tangga yang dibuat dari besi cat berwarna biru.
Lingkungan sekitar Petirtaan Jolotundo pada pelataran atas (timur) terdapat batuan besar, tiga buah payung, dan tiga buah pedupaan berbahan gerabah dengan sisa dupa. Selain itu, terdapat batu yang dipahat belum selesai (unfinish). Area sebelah barat petirtaan terdapat susunan percobaan dari temuan batu, batu lumpang. jaladwara, batu berbentuk seperti nisan yang belum selesai, maupun batu alam yang dipahatkan arca. Pada sisi selatan kompleks Petirtaan Jolotundo terdapat 6 (enam) buah gazebo yang dibuat permanen dengan ukuran 3 m x 3m dan satu buah pendopo berukuran 5 mx8 m.
Luas area Petirtaan Jolotundo ± 4678,06 m2 meliputi seluruh area petirtaan dengan batas pagar keliling. Tinggalan arkeologi terdekat adalah Situs Pemandian Kilisuci pada jarak + 397,66 m kearah barat daya dengan sudut 203°36'20". Candi ini telah diregistrasi oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala dengan nomor registrasi lama 113/MJK/1995 dan nomor registrasi baru 269/MJK/1995.
Vegetasi yang tumbuh disekitar Petirtaan Jolotundo adalah pohon bulu (Ficus annulata), jeruk bali (Citrus maxima), cempaka putih (Michelia alba), kemiri (Aleurites moluccana), bambu apus (Gigantochloa apus), kemadu (Laportea sinuata), cemara (Casuarinaceae), pucuk merah (Oleina syzygium), durian (Durio zibethinus), palem (Arecaceae), talas (Colocasia esculenta), melati (Jasminum). dan puring (Codiaeum variegatum). Sementara fauna yang dapat dijumpai di sekitar petirtaan adalah capung (Neurothemis fluctuans), kupu-kupu (Rhopalocera), dan burung sriti (Collocalia esculenta).
Kondisi Petirtaan Jolotundo saat ini mengalami ancaman baik oleh alam maupun perilaku manusia. Ancaman yang disebabkan oleh ulah manusia adalah vandalisme, aktivitas naiknya pengunjung pada lantai atas, dan jalur pendakian menuju puncak yang bersinggungan dengan lokasi Petirtaan Jolotundo. Ancaman yang bersumber dari alam berupa moss, algeae, lichens, dan banyaknya sampah. Selain itu potensi ancaman seperti resiko runtuhnya batuan besar maupun pohon tumbang yang berada di atas tebing tepat di atas petirtaan
Berita tertua dari sumber tertulis mengenai situs Petirtaan Jalatunda (Jolotundo) adalah uraian dalam prasasti Sukci (929 M) dari era pemerintahan Raja Pu Sindok (929-947 M). Prasasti tersebut masih berdiri in-situ di lereng timur Gunung Penanggungan di wilayah Pasuruan. Isinya antara lain menyebutkan adanya pertapaan dan petirtaan di Pawitra (gunung Penanggungan). Selain itu juga diuraikan dalam kitab Tantu Panggelaran bahwa di lereng barat Pawitra terdapat salah satu kepurbakalaan tertua, berangka tahun 899 Saka (977 M) yaitu Pe-tirtha-an Gempêng atau Jalatunda (Munandar. 2016: 95-96).
Jolotundo bagi Gunung Penanggungan selain sebagai salah satu jalur pendakian, kerap dianggap sebagai salah satu pintu masuk sekaligus tempat pensucian diri sebelum melakukan "laku" spiritual di "gunung suci" Penanggungan. Konsep pensucian diri dengan media air di (petirtaan) berdasar Kakawin Parthayajna adalah salah satu langkah awal bagi seseorang yang ingin mencapai kelepasan atau moksa dan memohon anugerah dari dewa untuk mencapai kebahagiaan.
Langkah pensucian dengan air petirtaan (Amerta), kemudian memuja arca yang ada di petirtaan tersebut, selanjutnya laku semedi untuk memusatkan pikiran sehingga dapat melenyapkan dan membersihkan diri dari dosa. Pada petirtaan ini, terutama pada teras 2 terdapat pancuran. Pancuran ini oleh Stutterheim diinterpretasikan sesuai bentuk Gunung Penanggungan yang dikelilingi 8 puncak yang lebih rendah. Hal ini berarti bahwa ada pemaknaan simbolis berkaitan dengan replika Mahameru.
